Pulang Ialah Sebuah Kepastian


Setelah pergi suatu saat kita akan pulang atau kembali. Sebab pergi dan pulang telah ditakdirkan berdampingan secara berlawanan. Pulang menjadi sebuah kepastian. Apakah di dunia ini tidak ada yang kembali atau pulang? Tentu semua akan kembali sebab dunia ini tak ada yang abadi.

 

Ketika kita telah mendapatkan sebuah pencapaian apakah kita tak ingin membawa kegembiraan dengan pulang? Atau ketika pergi apakah pernah putus asa dan hanya ingin pulang? Ketika tersesat yang dipikiran kita tentu saja jalan pulang. Wajar saja pulang menjadi jalan akhir ketika lelah. Dalam pulang hanya ada senyum dan tenang.

 

Setelah pergi, apakah kita tidak ingin kembali? Apakah kita tidak ingin pulang? Walaupun sudah yakin untuk pergi selamanya meninggalkan rumah, kota yang menjadi saksi perjalanan hidup dan apa pun itu. Apakah kita tidak rindu? Tentu saja ada rasa rindu akan kenyamanan dalam setiap hiruknya.

 

Bagaimana pun kondisi kita, kita akan pulang. Entah dengan emas atau tanpa apa-apa. Apakah rumah akan menolak? Semoga saja tidak. Sebab rumah kita lah yang merencanakannya untuk kita berlindung dengan nyaman dan tenang. Apakah rumah untuk pulang selalu berbicara fisik yang beratap dan berdinding? Tidak, rumah juga berbicara soal rasa. Sebab kita pulang mencari ketenangan setelah pergi.

 

Tetapi apakah kita sudah merencanakan pulang ke mana? Kalo sudah apakah bisa sesuai ekspektasi? Kembali ke masa lalu tentu saja tidak mungkin. Kembali ke tempat yang dahulu membuat nyaman belum tentu bisa. Kalaupun bisa belum tentu kita mendapatkan kenyamanan seperti dulu. Lantas ke mana diri yang telah pergi ini kembali? Jawabannya hanyalah mencari hingga dapat apa sesungguhnya pulang dengan tenang dan nyaman. Bukankah kita pulang untuk istirahat?

 

Pulang ialah sebuah kepastian. Sedangkan pergi bisa jadi hanya terhenti menjadi rencana.


 

Komentar