Dari Laut, Hidup (3): Karyawan Laut dan Kumpulan Nelayan

Kapal kembali usai melaut


Tak semua nelayan bisa punya kapal. Bagi yang tak bisa punya kapal jadi Karyawan Laut. Mudahnya karyawan laut ialah sebutan yang berkembang di Kampung Nelayan Bandengan, Kabupaten Kendal bagi anak buah kapal.

 

Berdasarkan penuturan Pak Ahmad, karyawan kapal ialah seakan sebutan yang setara dengan karyawan pabrik. Anak muda sini menurut penuturannya pun juga turut menjadi karyawan laut.

 

Sebutan itu mungkin agar anak muda tak gengsi untuk melaut. Temuan siapa karyawan pabrik berdasarkan penuturan anak Pak Ahmad, Erika, ialah mereka ada yang juga melanjutkan pendidikan tinggi swasta di Kabupaten Kendal.

 

Karyawan kapal ialah bagian dari kapal-kapal yang sekali laut memerlukan banyak orang, seperti kapal waring  yang memerlukan awak kapal sekitar 10 orang sekali melaut.

 

Soal bayaran mereka kisaran Rp 200 ribu setiap melautnya. Namun, tergantung hasil tangkapan. Hasil tangkapan usai dijual keseluruhannya akan disishkan untuk operasional kapal, pemilik kapal, barulah sisanya dibayarkan kepada para karyawan kapal dengan rata.

 

Lebih Baik ke Bakul

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kampung Nelayan Bandengan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, berdasarkan penuturan Pak Ahmad kini tak berfungsi. Pasalnya hasil belum tentu langsung dibayarkan ke nelayan, belum lagi potongan untuk bahan bakar solar.

 

“Mau makan apa kalau dibayarnya besok?” katanya. Belum lagi uang untuk solar dibayar berdasar jumlah hasil tangkapan padahal hasil tangkapan itu boleh jadi hasil melaut yang menempuh jarak yang jauh.

 

Persoalan juga potongan untuk simpanan baik saat tangkapan banyak maupun sedikit. Lagi-lagi kenapa harus dipotong saat tangkapan sedikit? Tetapi kalau banyak? Kapan pertanyaannya?

 

Jejeran kapal-kapal yang tengah sandar di muara Sungai Kendal, Kampung Nelayan Bandengan, Kabupaten Kendal.

Persoalan yang dinilai tak menguntungkan nelayan seperti Pak Ahmad, membuat memilih menjual hasil laut kepada para pengepul atau bakul.

 

Mereka pula lah yang memberikan modal melaut seperti kapal bagi yang tak punya kapal.

 

“Kapal dibelikan oleh bakul tetapi selama masih melaut harus setor ke dia,” katanya. Tak ada potongan untuk mencicil pembelian kapal yang dibebankan kepada nelayan.

 

Kumpulan Nelayan

Para nelayan tampaknya memang lebih senang melaut ketimbang berkumpul mendengarkan sosialisasi di Koperasi Unit Desa (KUD) walau itu terkait cara mendapatkan hasil laut yang lebih baik maupun keselamatan melaut.

 

Mendengarkan teori tampaknya tidak menarik. Naluri melaut yang diturunkan tampaknya lebih diyakini. Belum lagi anggapan bila kumpulan resmi seperti ini harus mengeluarkan uang untuk iuran.

 

Sehingga pertukaran informasi sesama nelayan ialah terjadi secara natural saat mereka bersosialisasi. Bertukar informasi soal di mana hasil tangkapan yang lagi bagus misalnya. Tampaknya ini lah obrolan yang paling nyaman.

 

Walau pun banyak yang menganggap remeh sosialisasi, Pak Ahmad tampaknya juga mengambil ilmu-ilmu yang disampaikan. Bagaimana ia menjelaskan kerusakan dasar laut misalnya bisa dijelaskannya saat diperlihatkan kepada para nelayan.

 

Menjaring di muara Sungai Kendal



“Kalau yang besar harus dilepaskan kenapa? Memang itu indukannya untuk kedepannya,” ucapnya yang mempertanyakan soal sosialisasi yang menganjurkan melepas ikan-ikan indukan.

 

Antar sesama nelayan pun bisa saling bantu pada hal yang nilainya tak seberapa seperti alat atau bahan yang perlu untuk melakukan perbaikan jaring maupun sekadar mengangkat mesin kapal.

 

Identitas Nelayan Menyelamatkan

Suatu saat dari mulut ke mulut, Pak Ahmad, menceritakan bagaimana para nelayan berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk mendapatkan kartu anggota Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Bisa dikatakan inilah kartu “sakti” nelayan.

 

Masa-masa paceklik atau saat cuaca buruk berkepanjangan memang nelayan yang biasanya melaut seperti Pak Ahmad bisa saja beralih mencari kerang. Tergantung musimnya pula.

 

Saat masa sulit lah identitas sebagai nelayan inilah dapat membantu untuk mendapatkan bantuan. Selain itu, dengan identitas ini bisa membantu para nelayan bila terjadi kecelakaan di laut. Sederhana lagi bila terdampar seorang nelayan bisa kembali ke asalnya dengan cuma-cuma.

Komentar