![]() |
| Kapal kembali usai melaut |
Tak semua nelayan bisa punya
kapal. Bagi yang tak bisa punya kapal jadi Karyawan Laut. Mudahnya karyawan
laut ialah sebutan yang berkembang di Kampung Nelayan Bandengan, Kabupaten Kendal
bagi anak buah kapal.
Berdasarkan penuturan Pak Ahmad,
karyawan kapal ialah seakan sebutan yang setara dengan karyawan pabrik. Anak
muda sini menurut penuturannya pun juga turut menjadi karyawan laut.
Sebutan itu mungkin agar anak
muda tak gengsi untuk melaut. Temuan siapa karyawan pabrik berdasarkan
penuturan anak Pak Ahmad, Erika, ialah mereka ada yang juga melanjutkan pendidikan
tinggi swasta di Kabupaten Kendal.
Karyawan kapal ialah bagian dari
kapal-kapal yang sekali laut memerlukan banyak orang, seperti kapal waring yang memerlukan awak kapal sekitar 10 orang
sekali melaut.
Soal bayaran mereka kisaran Rp
200 ribu setiap melautnya. Namun, tergantung hasil tangkapan. Hasil tangkapan usai
dijual keseluruhannya akan disishkan untuk operasional kapal, pemilik kapal,
barulah sisanya dibayarkan kepada para karyawan kapal dengan rata.
Lebih Baik ke Bakul
Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Kampung Nelayan Bandengan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, berdasarkan
penuturan Pak Ahmad kini tak berfungsi. Pasalnya hasil belum tentu langsung
dibayarkan ke nelayan, belum lagi potongan untuk bahan bakar solar.
“Mau makan apa kalau dibayarnya besok?”
katanya. Belum lagi uang untuk solar dibayar berdasar jumlah hasil tangkapan
padahal hasil tangkapan itu boleh jadi hasil melaut yang menempuh jarak yang
jauh.
Persoalan juga potongan untuk simpanan
baik saat tangkapan banyak maupun sedikit. Lagi-lagi kenapa harus dipotong saat
tangkapan sedikit? Tetapi kalau banyak? Kapan pertanyaannya?

Jejeran kapal-kapal yang tengah sandar di muara Sungai Kendal, Kampung Nelayan Bandengan, Kabupaten Kendal.
Persoalan yang dinilai tak menguntungkan
nelayan seperti Pak Ahmad, membuat memilih menjual hasil laut kepada para
pengepul atau bakul.
Mereka pula lah yang memberikan
modal melaut seperti kapal bagi yang tak punya kapal.
“Kapal dibelikan oleh bakul
tetapi selama masih melaut harus setor ke dia,” katanya. Tak ada potongan untuk
mencicil pembelian kapal yang dibebankan kepada nelayan.
Kumpulan Nelayan
Para nelayan tampaknya memang
lebih senang melaut ketimbang berkumpul mendengarkan sosialisasi di Koperasi
Unit Desa (KUD) walau itu terkait cara mendapatkan hasil laut yang lebih baik
maupun keselamatan melaut.
Mendengarkan teori tampaknya tidak
menarik. Naluri melaut yang diturunkan tampaknya lebih diyakini. Belum lagi anggapan
bila kumpulan resmi seperti ini harus mengeluarkan uang untuk iuran.
Sehingga pertukaran informasi
sesama nelayan ialah terjadi secara natural saat mereka bersosialisasi. Bertukar
informasi soal di mana hasil tangkapan yang lagi bagus misalnya. Tampaknya ini lah
obrolan yang paling nyaman.
Walau pun banyak yang menganggap
remeh sosialisasi, Pak Ahmad tampaknya juga mengambil ilmu-ilmu yang
disampaikan. Bagaimana ia menjelaskan kerusakan dasar laut misalnya bisa
dijelaskannya saat diperlihatkan kepada para nelayan.

Menjaring di muara Sungai Kendal
“Kalau yang besar harus dilepaskan
kenapa? Memang itu indukannya untuk kedepannya,” ucapnya yang mempertanyakan
soal sosialisasi yang menganjurkan melepas ikan-ikan indukan.
Antar sesama nelayan pun bisa
saling bantu pada hal yang nilainya tak seberapa seperti alat atau bahan yang
perlu untuk melakukan perbaikan jaring maupun sekadar mengangkat mesin kapal.
Identitas Nelayan Menyelamatkan
Suatu saat dari mulut ke mulut,
Pak Ahmad, menceritakan bagaimana para nelayan berbondong-bondong mendaftarkan
diri untuk mendapatkan kartu anggota Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).
Bisa dikatakan inilah kartu “sakti” nelayan.
Masa-masa paceklik atau saat
cuaca buruk berkepanjangan memang nelayan yang biasanya melaut seperti Pak Ahmad
bisa saja beralih mencari kerang. Tergantung musimnya pula.
Saat masa sulit lah identitas
sebagai nelayan inilah dapat membantu untuk mendapatkan bantuan. Selain itu, dengan
identitas ini bisa membantu para nelayan bila terjadi kecelakaan di laut. Sederhana
lagi bila terdampar seorang nelayan bisa kembali ke asalnya dengan cuma-cuma.

Komentar
Posting Komentar