Bagaimana cara menulis?


Cara Menulis

 

Bagaimana cara menulis?

 

Ambil pena atau pensil, ikuti titik titik yang buram membentuk sebuah huruf. Tebalkan satu persatu. Kalau sudah bisa menggengam dengan baik dan hafal bagaimana bentuk tiap huruf, tinggal tulis saja huruf-huruf yang diinginkan.

 

Sampai sini sudah bisa menulis kan?

 

Iya, aku tahu itu menulis untuk seorang balita. Usia yang masih mengenal huruf, angka, kata, hingga ia bisa merangkai kalimat sederhana. Misalnya “Sasa mau makan baso.”

 

Beda halnya ketika kita bertanya saat usia belasan, dua puluhan, atau berapa pun usia dewasa itu. Rumit. Kata sederhana untuk menggambarkan itu.

 

Persoalan bagaimana kalimat, bahkan kata pertama sebagai pembuka tulisan yang mau ditulis. Pilihan kosa kata seakan menjadi kolam yang mengelilingi benteng yang menyulitkan seorang pejuang mencapai dalam benteng.

 

Sepertinya masalah kita amat sederhana, terlalu takut. Padahal dasarnya kita punya keresahan atau kebahagian yang perlu diluapkan. Jadi, wajar saja orang mendadak puitis ketika jatuh cinta dan patah hati.

 

Ga kaget juga kalau ada yang mendadak semangat mengerjakan skripsi karena patah hati.

 

Setiap kita itu pandai bercerita. Senang banget untuk bercerita apa lagi ada yang mendengarkan. Mungkin ini bisa menjadi cara untuk menulis. apa yang ingin diungkapkan “tidak” disampaikan lisan tetapi diungkapkan dengan tulisan.

 

Tulis saja dulu mengalir. Selesaikan kata pertama hingga kata terakhir. Apa saja yang ada dipikiran tuangkan saja. Jangan ditahan! Bodo amat dulu soal apakah tulisan ini akan bermanfaat.

 

Aku saja tak tahu, apakah ada orang yang sudah baca sampai kalimat ini. Apakah kamu sudah sampai kalimat ini? Aku ucapkan terimakasih.

 

Bagiku menulis utamanya ialah soal apa yang dirasakan. Resah soal mengapa ayam geprek kalau cabenya lebih dari tiga tambah seribu bisa saja menjadi banyak ide tulisan. Bagi seorang wartawan ada kemungkinan akan menulis berita “Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu Per Kilo, Pedagang Warung Makan Menurunkan Pembelian,” seorang ekonom mungkin akan menulis opini “Pedas, Permintaan Tinggi, Suplai Minim,” seorang kolumnis receh bisa saja menulis “Mulailah Menanam Cabai Rawit Agar Bisa Menghemat Pengeluaran.”

 

Benar, masalah ketika menulis berikutnya ialah kita terlalu membayangkan hal-hal yang jauh. Padahal sehari-hari kita merasakan, melihat, mendengar, dan mencium. Kita mungkin terlalu jauh dengan hal yang dekat dengan kita.

 

Sederhana saja. Sehari-hari naik transportasi umum, bis kota misalnya. Kita mengalami bagaimana beli tiket, menunggu bis kota di halte, di tolak karena bis penuh, desak-desakan, mendengarkan halte pemberhentian berikutnya, melihat anak sekolah, pekerja, simbah-simbang, ibu-ibu, apa saja bisa kamu lihat.

 

Halte Bus

 

Uyel-uyelan kala sibuk

Barang bawaan mohon diperhatikan

Tas digendong di depan

 

Penggaron-mangkang

Poncol-Elisabeth

Meteseh-PRPP

 

Pelajar, mahasiswa

Pegawai kantor, buruh

 

Jangan dorong-dorong

Yang dibelakang angkat tangan

Bilang permisi

 

Sabar, jam sibuk di halte

 

Semarang, 26 Oktober 2022

 

“Ah, itu sastra.” Apakah kamu tahu Dosen Antropologi Universitas Gajah Mada (UGM), Atik Triatnawati, menggemparkan jagat dunia maya dengan judul naskah pidato akademiknya? Ia hanya menulis judul “Masuk Angin Sebagai Fenomena Budaya.” Orang Indonesia mana yang ga akrab dengan masuk angin? Remeh kan? Kurasa Bu Atik orang yang peka.

 

Bagaimana? Sudah mau menulis? Mulai saja dulu! Bingung? Mungkin kita itu orang yang suka meniru. Ku rasa usia belasan lebih mengenal amati, tiru, modifikasi alias ATM. Jadi, membacalah! Membaca tulisan-tulisan yang kita suka. Tulisan-tulisan itu akan mempengaruhi bagaimana kita menulis, gaya penyampaian, pemilihan kosa kata, dan lain-lainnya.

 

Mungkin awal-awal rasanya plek-ketiplek mirip, membosankan, ga jelas, atau apalah itu. Langkah selanjutnya setelah mencoba menulis, terus saja mencoba menulis. Semakin sering setidaknya gaya penulisan kita akan menemukan kekhasannya sendiri.

 

Sudah, menulislah dengan tulus. Jangan berharap kalau tulisanmu langsung seperti Laila Chudori atau Agus Mulyadi. Mereka sudah punya jam terbang. Pisau mereka terus diasah. Lah gimana kita yang baru mulai? Masak maunya instan?

 

Tulisan ini bukan dari orang yang ahli menulis. Serius, aku juga pemula. Namun, baru saja kamu melewati kata ke-600. Kalau kamu bingung dengan tulisan ini tandanya aku gagal menyampaikan. Namun, jika kamu memahami sebagian atau bahkan semuanya mungkin kamu yang punya kemampuan memahami tulisanku.

 

Semarang, 10 Juli 2025


 

Komentar